Secara intuitif kesadaran b sutopo didasarkan pada pengalaman estetik yang diperoleh dilingkungan (social, budaya) di daerahnya. Aktifitas manusia sebagai titik pusat masalahnya, serta alam pedesaan dan perkotaan menjadi daya sensitivitas kreatifitasnya. Kekuatan pisau pallete menyusun garis tebal dan tipis, warna dan bentuk menjadi daya pikat visual citra (gaya) naturalisme menarik untuk dinikmati.

Dengan pengambilan tema yang tidak terlalu sulit serta meyodorkan kemampuan olah bentuk naturalistik yang prima dengan mempertimbangkan aspek detailnya, sutopo sejajar dengan para pelukis gaya naturalis yang lainnya. Aktivitas keseniannya begitu signifikan, melalui 4 kali berpameran tunggal serta puluhan kali pameran bersama pada beberapa wilayah di Indonesia menjadikan eksistensinya begitu matang. Dalam pameran tunggalnya ke 4 dengan tema “inspirasi dari desa ke kota” di Galeri Surabaya, ia menyadari lagi dan memberikan kebebasan apresiator untuk menafsirkan sendiri tentang proses kreatifitas yang merajut inspirasi serta intuisi menjadi ritme estetik karya-karyanya.

Apakah gagasan atau bentuk visual hanya dipahami secara teknis atau ada sesuatu “aura” dibalik itu?
Wolter menyesalkan tenggelamnya aura karya seni dalam teknis2 dan mekanika reproduksi yang nyaris membicarakan seni hanya sebagai teknik atau hanya sebagai urusan dagangan dan resensi-resensinya berhenti sampai pada kulit bungkus luarnya semata-mata. Sekarang tinggal bagaimana kita memahami tingkat kesadaran kreatifitas sutopo mempresentasikan karya seni melalui lukisan2nya.

Tulis sebuah Komentar

*
*