Arsip Kategori: Uncategorized

Secara intuitif kesadaran b sutopo didasarkan pada pengalaman estetik yang diperoleh dilingkungan (social, budaya) di daerahnya. Aktifitas manusia sebagai titik pusat masalahnya, serta alam pedesaan dan perkotaan menjadi daya sensitivitas kreatifitasnya. Kekuatan pisau pallete menyusun garis tebal dan tipis, warna dan bentuk menjadi daya pikat visual citra (gaya) naturalisme menarik untuk dinikmati.

Dengan pengambilan tema yang tidak terlalu sulit serta meyodorkan kemampuan olah bentuk naturalistik yang prima dengan mempertimbangkan aspek detailnya, sutopo sejajar dengan para pelukis gaya naturalis yang lainnya. Aktivitas keseniannya begitu signifikan, melalui 4 kali berpameran tunggal serta puluhan kali pameran bersama pada beberapa wilayah di Indonesia menjadikan eksistensinya begitu matang. Dalam pameran tunggalnya ke 4 dengan tema “inspirasi dari desa ke kota” di Galeri Surabaya, ia menyadari lagi dan memberikan kebebasan apresiator untuk menafsirkan sendiri tentang proses kreatifitas yang merajut inspirasi serta intuisi menjadi ritme estetik karya-karyanya.

Apakah gagasan atau bentuk visual hanya dipahami secara teknis atau ada sesuatu “aura” dibalik itu?
Wolter menyesalkan tenggelamnya aura karya seni dalam teknis2 dan mekanika reproduksi yang nyaris membicarakan seni hanya sebagai teknik atau hanya sebagai urusan dagangan dan resensi-resensinya berhenti sampai pada kulit bungkus luarnya semata-mata. Sekarang tinggal bagaimana kita memahami tingkat kesadaran kreatifitas sutopo mempresentasikan karya seni melalui lukisan2nya.

SURABAYA – Sedang butuh suasana ceria untuk menyegarkan pikiran? Anda bisa mencoba datang ke pameran lukisan yang sedang berlangsung di Hotel JW Marriott Surabaya. Acara yang diikuti 34 pelukis Jawa Timur dari Komunitas Pelukis Jawa Timur (KPJT) itu berlangsung sebulan mulai kemarin (30/6).

Semua karya dipajang di sekitar lobi. Ada yang ditempel di dinding, ada pula yang ditata di atas panel kayu. Semua seolah bertutur tentang suasana riang sesuai dengan judul pameran Nusantara Berseri. Di satu sudut terlihat lukisan bunga-bunga merah bersemi. Di sudut lain ada gambar petani memanen padi. Juga, ada kanvas bergambar burung-burung cantik bertengger di dahan pohon.

Aliran yang diusung bermacam-macam, bergantung pada ciri khas tiap pelukis. Misalnya, karya milik Harris A. Lukisan bertajuk Prahu Layar itu menggambarkan sekumpulan perahu layar yang tengah melaut di kala senja. Dengan dominasi warna abu-abu dan hitam yang diselingi warna kuning, lukisan realis tersebut seperti ingin menawarkan kesejukan hati.

Berbeda dengan karya Andi Solas. Pelukis potret lokal kenamaan itu memilih seorang penari Bali sebagai objek. Dalam lukisannya yang bertajuk Legong, Andi menyajikan warna-warna terang seperti kuning, merah, biru, dan oranye. Lukisan naturalis yang menggunakan cat minyak tersebut digambarkan Andi sebagai lukisan yang penuh keceriaan. “Warna-warna cerah tersebut menggambarkan penari itu tengah berada di atas panggung yang gemerlap,” jelasnya.

Ada pula lukisan abstrak karya Mahfud. Dalam warna-warna cerah seperti oranye dan kuning, pelukis senior tersebut ingin menggambarkan sebuah perjalanan hidup yang bahagia. Lukisan itu diberi judul Perjalanan 402.

Menurut Henri Nurcahyo, ketua penyelenggara, pameran lukisan tersebut sengaja diadakan untuk memberikan semacam oasis sekaligus menghidupkan kembali optimisme masyarakat metropolis. “Selama ini kita selalu dijejali dengan hal-hal negatif seperti bencana, naiknya harga BBM, dan hal-hal lain yang menyedihkan. Untuk itu, pameran lukisan ini mencoba menawarkan keceriaan agar masyarakat tidak terlalu melulu memikirkan kondisi bangsa ini,” ujarnya. (ken/ayi)

Jawa Pos, Selasa, 01 Juli 2008

GRESIK – Empat orang pelukis berbeda aliran menyelenggarakan pameran lukisan di gedung parlemen Jl KH Wahid Hasyim. Pameran bertajuk Ekspresi Kebersamaan itu diadakan untuk memperingati HUT Ke-62 Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan akan berlangsung hingga Rabu (10/10).

Mereka adalah M. Zainul Arifin alias Inoeng. Pelukis yang juga guru kesenian tersebut menggunakan media kanvas dan semir. Lalu, Wayono alias Zhienke’. Pelukis asal Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, itu dikenal dengan perupa bekas kayu dimakan rayap. Berikutnya, Bambang Sutopo, pelukis asal Desa Lebaniwaras, Kecamatan Wringinanom; dan Yudi Dogel.

Menurut Rudi Isbandi, pelukis dan kurator seni asal Kota Surabaya, lukisan yang baik harus mengandung tiga nilai dasar. Yakni, mutu, kemampuan teknis melukis, dan wawasan pelukisnya. “Sudah tidak zamannya lagi memperdebatkan aliran lukisan,” kata Rudi di sela-sela pameran kemarin (5/10).

Di antaran puluhan lukisan yang dipajang, lukisan Inoeng berjudul Kerakusan paling menyita perhatian. Lukisan berukuran 100 x 140 sentimeter tersebut menggambarkan dua kucing sedang bertengkar. Itu adalah koleksi Inoeng pribadi sejak 2002. Harganya pada 2002 Rp 10 juta. (yad)

Radar Gresik,

Sabtu, 06 Okt 2007
Pameran Ekspresi Kebersamaan Pelukis

GRESIK – Empat orang pelukis berbeda aliran menyelenggarakan pameran lukisan di gedung parlemen Jl KH Wahid Hasyim. Pameran bertajuk Ekspresi Kebersamaan itu diadakan untuk memperingati HUT Ke-62 Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan akan berlangsung hingga Rabu (10/10).

Mereka adalah M. Zainul Arifin alias Inoeng. Pelukis yang juga guru kesenian tersebut menggunakan media kanvas dan semir. Lalu, Wayono alias Zhienke’. Pelukis asal Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, itu dikenal dengan perupa bekas kayu dimakan rayap. Berikutnya, Bambang Sutopo, pelukis asal Desa Lebaniwaras, Kecamatan Wringinanom; dan Yudi Dogel.

Menurut Rudi Isbandi, pelukis dan kurator seni asal Kota Surabaya, lukisan yang baik harus mengandung tiga nilai dasar. Yakni, mutu, kemampuan teknis melukis, dan wawasan pelukisnya. “Sudah tidak zamannya lagi memperdebatkan aliran lukisan,” kata Rudi di sela-sela pameran kemarin (5/10).

Di antaran puluhan lukisan yang dipajang, lukisan Inoeng berjudul Kerakusan paling menyita perhatian. Lukisan berukuran 100 x 140 sentimeter tersebut menggambarkan dua kucing sedang bertengkar. Itu adalah koleksi Inoeng pribadi sejak 2002. Harganya pada 2002 Rp 10 juta